Tiba-tiba seorang kawan, dia wanita mendekati saya yang waktu itu sedang duduk pada sebuah ruangan, sepertinya sebuah warung atau sebut saja kafe sederhana. Saya pernah bertemu dia beberapa hari yang lalu, sempat berbicara sedikit tentang hal-hal yang kurang (sebetulnya) saya minati. Akhirnya hari ini dia berkata lagi bahwa dirinya sedang suntuk karena pacarnya. Pacarnya itu sekarang lagi ngambek, tidak mau diajak bicara, tidak mau ditemani, tidak mau diapa-apain, pokoknya “tinggalkan aku sendiri” kata sang pacar. Saya memberanikan diri untuk bertanya, siapa nama pacarmu ? mungkin ini kurang begitu penting. Sejak kapan sih nama menjadi begitu berarti dan pantas menjadi bahan pembicaraan. Apa boleh buat, saya juga kurang begitu tertarik berbicara dengan dia. Dia mengeluarkan sebuah MP4 player, dalam MP4 itu tersimpan foto-fotonya. Lho, saya heran bercampur aduk dengan nasi udukkaget kenapa pacarmu wanita?
Saya laki-laki tulen, bukan suka sejenis lho. Tapi bagaimana ketika ditanya soal poligami? setujukah anda dengan poligami? saya mau menjawab ini dulu. Posisi saya laki-laki, yang konon dalam masyarakat kita diyakini, laki-laki sangat gemar terhadap perempuan, gemar terhadap hubungan sexualitas. Tentu saja poligami adalah perkawinan, bukan pernikahan. Dan penjelasan rasional untuk perkawinan adalah hubungan sex. Sedang menikah adalah masalah kedewasaan pikiran, perkawinan adalah physic oriented. Masalah menikah atau tidak itu urusan formalitas, tidak menikah dan berhubungan sex juga banyak. Dan saya rasa itu termasuk dalam hitungan poligami. Masalah setuju atau tidak, saya memilih tidak suka. Saya tidak suka poligami, saya tidak suka banyak kawin (dengan banyak wanita loh). Saya laki-laki tulen, doyan terhadap hal-hal yang berbau sexualitas, tetapi saya rasa masalah poligami adalah masalah sosial. Untuk kesekian kalinya kita harus mengesampingkan masalah sexualitas ketika berhadapan dengan sosial.