Bikin Di Colombo, kata orang harus pake calo.. klo ga , tidak akan bisa. Itu pernyataan beberapa orang yang aku kenal. Bukan tidak percaya pada orang-orang tapi denger-denger negeri ini sedang gencar – gencarnya memberantas korupsi, kolusi, dan nepotisme. Dengan PD akhirnya aku putuskan untuk mengurus SIM sendiri, pertama fotocopy lancar, beli formulir lancar, isi formulir dibantu, test kesehatan lancar tidak ada gangguan. Tapi sebenarnya ada sedikit gangguan bukan menimpaku karena kebetulan mata kesehatan ku baik-baik saja. Tapi ada seorang wanita yang kebetulan bermasalah dengan matanya, dan dia kepingin lolos SIM, dengan nada memelas pak tolong di loloskan sambil menyerahkan beberapa lembar rupiah. (siapa yang salah ? ) dan wanita tersebut lolos.
Sekarang tinggal ujian tulis, ujian tulis menggunakan komputer aku kerjakan saja ujian ini dengan tenang. Pertama hasil uji coba lulus dengan nilai 70 siip. Kemudian melalui ujian tulis yang sesungguhnya. Beberapa menit ujian tulis akhirnya sampai pada soal terakhir enter dan muncul anda tidak lolos. OK aku akan coba seminggu lagi
Akhirnya pulang, sampai di rumah aku beritakan bahwa tidak lolos, menurut asumsi beberapa keluarga atau lebih tepatnya vonis keras. “KAMU TIDAK AKAN LOLOS !!, SUDAH KAMU KE CALO SAJA ”. Akhirnya dengan berat hati aku cari calo di colombo, rasanya tidak puas belum membuktikan semuanya. Setelah tawar menawark terjadi kesepakatan harga.
Semua berkas diserahkan pada calo, yang dia katanya seorang pejabat di kepolisian. Dengan pakaian singlet dia menemui para mangsanya, beres semua bisa di atur. Dia menjelaskan padaku bahwa bagaimanapun pinternya kamu sarjana sekalipun , kamu nggak bakalan lolos karena yang bikin sistem komputernya dia ? anech !!
Akhirnya setelah di ombang – ambingkan 2 minggu ikut ujian tulis, tapi sebelumnya sudah di ajari sama calo tentang jawabanya. Sampai di ruang ujian yang inget ya di jawab yang ngga ya di jawab sembarangan. Akhirnya ujian tulis lolos.
Saatnya ujian praktik, di ujian praktik ini ada praktik tak sehat sebenarnya tanpa ujian pun sudah lolos tapi biar tidak mencolok salah satu dari kalian harus ikut ujian mewakili yang lain.
Ini nyata dan kisah nyata klo tidak percaya silah coba dech …..
Bagaimana dengan kota-kota lain di Indonesia ?
oleh cahyo.onsby@yahoo.co.id
DIarsipkan di bawah: birokrasi, budaya, first post, sosial | yang berkaitan: birokrasi, kendaraan, sim
