Tiba-tiba seorang kawan, dia wanita mendekati saya yang waktu itu sedang duduk pada sebuah ruangan, sepertinya sebuah warung atau sebut saja kafe sederhana. Saya pernah bertemu dia beberapa hari yang lalu, sempat berbicara sedikit tentang hal-hal yang kurang (sebetulnya) saya minati. Akhirnya hari ini dia berkata lagi bahwa dirinya sedang suntuk karena pacarnya. Pacarnya itu sekarang lagi ngambek, tidak mau diajak bicara, tidak mau ditemani, tidak mau diapa-apain, pokoknya “tinggalkan aku sendiri” kata sang pacar. Saya memberanikan diri untuk bertanya, siapa nama pacarmu ? mungkin ini kurang begitu penting. Sejak kapan sih nama menjadi begitu berarti dan pantas menjadi bahan pembicaraan. Apa boleh buat, saya juga kurang begitu tertarik berbicara dengan dia. Dia mengeluarkan sebuah MP4 player, dalam MP4 itu tersimpan foto-fotonya. Lho, saya heran bercampur aduk dengan nasi udukkaget kenapa pacarmu wanita?
Wanita teman saya itu berwajah cantik, bodynya juga bagus, putih wajahnya, namanya juga bagus (perlu dikatakan lagi ?) ternyata dia adalah seorang lesbian. Ya, seorang lesbian -wanita yang menyukai sesama jenis, mencintai wanita, pria tidak masuk hitungan. Dia sudah berhubungan dengan pacarnya tersebut sudah hampir 1 bulan. Untuk terkejut,mungkin akan dikira ketinggalan jaman, kampungan, tidak gaul -dan bisa dikatakan menentang soal perkawinan sejenis. Tapi saya terkejut, tidak apa-apa dibilang begitu. Saya memang heran dengan masalah tersebut. Alasannya mungkin tidak biasa dengan hal-hal yang sejenis, wong saya biasa makan saja pakai nasi sama sayur bukan nasi thok (hubungannya apa coba?)
Tidak ada dendam terhadap laki-laki, dia berkata demikian. Dia tidak pernah disakiti laki-laki. Pernah pacaran dengan laki-laki juga, tetapi tidak merasakan kenikmatan berpacaran.Akhirnya putus dengan cepat. Melihat film bok3p pun tidak begitu terangsang, dia berkata begitu, apalagi melihat laki-laki telanjang, -sama saja melihat sapi (pernah ada orang yang melihat sapi langsung terangsang?, kayaknya enggak deh). Dia lebih berminat, lebih suka (kata halus dari terangsang) melihat sesama wanita yang saling bergandengan, duduk berdua, berjalan bersandingan dll. Sangat wajar terhadap keadaanya.
Dia berkata lagi bahwa kecenderungan lesbian itu sudah dari kecil, lesbiannya merupakan keadaan terberi, sama seperti anda sejak lahir diberi tangan, diberi kepala. Itu adalah sikap bawaan. Mengubah juga sulit sekali, dia sudah beberapa kali datang kepada psikiater, hasilnya memang psikiater itu mengatakan bahwa dia adalah lesbian, semacam sakit yang menjelma menjadi sikap wajar itu sendiri. Jadi apapun itu, orang boleh berkata apa, tetapi lesbi adalah sikap yang wajar, atas keadaan terberi tadi. Jadi bisakah orang dengan sikap tersebut disalahkan? bagi saya pribadi dari pada menggugat, mencerca, mengkritik orang-orang lesbi, orang-orang cinta sejenis lebih baik mensyukuri keadaan diri yang masih normal -mencintai lawan jenis. Ini adalah nikmat yang luar biasa.
Bagaimana dengan Tuhan? bagaimana dengan kodrat yang telah ditentukanNya ? -menjadi seorang wanita dengan segala ketentuan sikap dan perbuatannya ? Sama seperti kekurangan pada fisik badan, misalkan bagaimana dengan orang yang terlahir dengan kaki yang cacat, untuk bisa beribadah dia tidak bisa berdiri, harus dengan duduk. Toh Tuhan juga menyediakan ’sarana’ untuk beribadah dengan cara duduk, sholat boleh kok dengan duduk, bahkan tiduran. Sekali lagi ini adalah keadaan terberi. Perbedaanya hanya pada masalah letak. Fisik dan mental kadang menjadi sangat jauh. Masyarakat kita cenderung meninggikan mental khusus pada bagian yang dinilai sangat kritis. Tetapi sesungguhnya fisik dan mental adalah entitas yang sama -yaitu elemen untuk bisa hidup.
Setuju atau tidak dengan hubungan sejenis, adalah masalah pribadi. Tidak perlulah memberikan kecaman disana-disini. Jika ditanya setuju atau tidak, saya lebih suka menjawab lebih baik saya bersyukur dengan keadaan saya. Tentang setuju atau tidak, mereka lebih pantas untuk dikasihi, bukan menjadi subjek perdebatan, bahkan disalahkan.
Mei 30, 2008 pukul 1:22 pm
Bener-bener keren tulisan yg loe tulis!!
Jujur selama ini gw ga pernah mikir sampe kesitu, tapi sejak gw baca tulisan loe, akhirnya gw ngerti bahwa…(ya gitu lah)
Ok!!Pokoknya tulisan loe keren abiz Lah!!!
Juli 19, 2008 pukul 9:05 am
tulisannya bagus.
salam kenal
Juli 23, 2008 pukul 5:59 am
tengkyu
Agustus 6, 2008 pukul 3:47 am
Tulisan loe bagus banget.. salam kenal..
Gw termasuk cewe yang suka sama cewe but i still like guys too.. Yang namanya perasaan gak bisa dipungkiri…
Agustus 6, 2008 pukul 11:03 am
weisss///keren tulisan mu..
aq merasa bgga klo ada yg ngebelain kaum lesbian.
cz,,lesbian ngga slalu identik dgan SEX BEBAS
tpi,,msalah kasih sayang yg tulus…….
Agustus 22, 2008 pukul 9:55 am
saya adalah seorang lesbian, dan saya suka tulisanmu!
salam
Mahda
Agustus 24, 2008 pukul 10:07 am
yang aku rasa cinta adalah sebuah kenyaman hidup
dmna aku selalu ada dsisinya
aku berkata tdk salah karena siapa yg memiliki rasa
wlo cinta ITU aku temukan pada seorang wanita juga. . . .
September 5, 2008 pukul 8:05 am
ceritanya bagus….
jujur aku juga bingung, katanya cinta itu datangnya dari Yang Di Atas, trus kalo ternyata kita mencintai orang yang sejenis dengan kita, apakah itu sebuah kesalahan ???
memang berkomentar itu semudah membalik telapak tangan kita, tapi alangakah baiknya kita belajar berempati. berusaha ikut merasajakan “jika aku menjadi” demikian apa yang harus kitalakukan?
sementara cinta telah sebegitu dalam….
sementara kita sudah merasa bahwa kita tak bisa hidup tanpa pasangan sejenis kita…
dan yang terpenting, kita benar-benar tidak bisa bersama pasangan yang berbeda jenis.
ohhh… God…
ujungnya bingung.
September 23, 2008 pukul 7:28 am
klo pada lesbi semua.. trus yg cowok dapet apa?? gmn neh??
September 28, 2008 pukul 2:40 pm
stok wanita jadi berkurang ni bagi laki2 hihi