Ditulis pada Agustus 5, 2008 oleh cahyoonsby
Setelah penerimaan Siswa baru, dengan peraturan Sekoah Negeri tidak boleh memungut biaya apapun kepada wali murid. tapi ternyata kabar burung kenyataannya masih ada kepala sekolah yang memungut, bayaran untuk pendaftaran. APAKAH MENURUT ANDA BIJAK PEMERINTAH MELARANG KEPALA SEKOLAH MEMUNGUT UANG PANGKAL ? Andaikan kepala sekolah itu jujur itu bisa digunakan untuk membangun fasilitas sekolah (kalau jujur). Dengan adanya pengadaakn fasilitas akan meningkatkan kualitas sumber daya manusia Bangsa ini, bila hanya mengandalkan uang BOS bisakah fasilitas sekolah ditingkatkan ? bisakah kualitas bangsa ini ditingkatkan (Klo sekedar bisa baja saja, APA GA KETINGGALAN JAMAN !! (YA… IYALAH PASTI ).
Ada lagi kebijakan, sekolah Negeri tidak boleh menjual buku, kaos olahraga, seragam sekolah. nach ini juga kebijakan yang bikin bingung. bagaimana tidak bingung guru tidak punya pegangan, bingung mau ngajar apa (guru bingung ga dapet ceperan udah gaji kecil di larang jualan nasiib !!), Saat Wali murid bertanya Pak, Buku apa yang digunakan, pak/bu guru bingung entahlah nunggu keputusan pemerintah !! (capek dech)
ada berita lagi katanya disediakan buku dalam yang bisa di download, itu mater SD N yang saya tahu, ini tambah membingungkan, kenal internet saja ga ? bagaimana mo download. ketika dapat edaran dari uptd download di situs ini. si kepala sekolah malah bilang unduhnya di mana , langiiit !!!
klo pun bisa sekarang di prin dengan jumlah eksemplar yang banyak apa tidak tambah mahal ?
klo pun bisa di foto copy setelah di prin dengan jumlah yang banyak apa tidak tambah mahal ?
apa iya di download trus di lihat via PC apa iya semua wali murid punya komputer ?
CAPEEK DECH ………….
DIarsipkan di bawah: birokrasi, budaya | Tidak ada komentar »
Ditulis pada Juli 14, 2008 oleh koransore
ini kisah nyata, tidak ada untungnya buat saya jika berbohong. Kejadiannya di Yogyakarta perempatan ring road timur (perempatan ngipik). Waktu itu lampu yang hijau adalah yang sisi barat, saat itu saya berada di sisi timur. Pos polisi berada di sisi timur juga, di dekat lampu trafic light yang timur. Nah tiba-tiba dari pos polisi itu, ada 2 ekor polisi, berboncengan langsung menerobos ke utara tanpa memperhatikan lampu yang menyala hijau mana.
Sebenarnya saya ingin mencari masalah dengan polisi semacam itu dikarenakan masalah itu tadi. Tapi saya pikir tidak perlu, tidak ada habisnya ngurusi masalah fuck seperti itu
DIarsipkan di bawah: budaya, polisi korup, sosial | yang berkaitan: aturan, melanggar lalu lintas, polisi | 1 Komentar »
Ditulis pada Juli 13, 2008 oleh cahyoonsby
Bantuan Soal Jawaban (apakah ini budaya bangsa ?)
di televisi koran dan berbagai media, menyiarkan bahwasanya prestasi siswa sd,smp,smu, meningkat hal ini disebabkan oleh standard pemerintah yang tinggi sehingga memacu para siswa untuk lebih giat belajar. Benarkah demikian.
Saat pelaksanaan PMB (Penerimaan Siswa Baru) di sebuah sekolah swasta, ada seorang guru yang sukarela menceritakan bahwa hal tersebut tidak sepenuhnya benar , beliau mengatakan hal tersebut tidak semua benar karena memang ada (bantuan kata beliau ) “Jawaban Soal Unas”.
Bagaimana apakah isu Jawaban Soal Unas itu juga ada di SD,SMP,SMK di daerah anda ?
Jika Ya… kira-kira kita di perbodoh atau di didik bodoh oleh pemerintah ?
DIarsipkan di bawah: budaya | Tidak ada komentar »
Ditulis pada Juli 12, 2008 oleh koransore
Saya ada ide segar ni, kayaknya kurang adil kalau tidak dibagi-bagi disini. Ide ini muncul ketika mendengar KPK berhasil menangkapi para koruptor itu. Saya percaya KPK VS Koruptor adalah pertandingan tidak seimbang, artinya koruptor berjumlah 1 juta ekor sedangkan KPK hanya 100 orang. Jadi saya rasa KPK perlu dibantu. Nah, ide saya itu (mungkin agak kocak juga, jadi jangan dianggap terlalu serius :p, tapi saya rasa bisa diaplikasikan) menggunakan masyarakat indonesia yang jumlahnya berjibel itu untuk ikut membantu KPK dalam penyelidikan para koruptor. Saya percaya banyak dari masyarakat kita yang mengetahui, melihat dan merasakan tindakan korupsi di pemerintahan. Contohnya saja disini.
Tapi bukan hanya itu saja, penyelidikan oleh masyarakat ini harus ada imbalannya. Setiap orang yang berhasil menangkap koruptor harus diberi imbalan minimal 10 % dari besarnya korupsi yang dilakukan oleh oknum tikus itu. Jadi dalam masyarakat terdapat perlombaan untuk menangkap para koruptor, karena imbalannya gede juga.
Untuk sementara, mungkin sekitar 10 tahun, bagi rakyat indonesia ada pekerjaan baru, yaitu menangkap, memergoki oknum yang berbuat curang atau berkorupsi ria. Pekerjaan ini bisa dilakukan oleh siapa saja, bahkan premen pun bisa. Tenaga preman yang sangat besar bisa digunakan untuk menyeret secara fisik kaum koruptor jika tidak mau di bawa ke kantor pulisi. Dan pulisi yang korup bisa di hajar sekalian oleh para preman. Menghajar polisi korup bisa dihargai sebesar 1 bulan gaji pulisi tersebut. Kan lumayan :p
Terus bagaimana cara kerjanya : ya cuma mondar-mandir aja di kantor pemerintahan, sambil membawa kamera digital, catatan kecil, tape recorder, pokoknya dipergok dengan cara apapun deh.
Mungkin begitu :p, semoga KPK bisa menerima ide gila brilian ini :p
DIarsipkan di bawah: budaya, fuckin politik, polisi korup, solusi korupsi, sosial | yang berkaitan: fuckin korupsi, kasus korupsi, KPK, masalah korupsi, solusi korupsi indonesia | 5 Komentar »
Ditulis pada Juli 3, 2008 oleh koransore
Seorang polisi yang sudah senior mengintrogasi polisi junior (katakanlah calon junior) yang akan masuk ke akademi kepolisian, begini ceritanya :
Pulisi Senior : Apa alasanmu bergabung dengan kepolisian republik indonesia ?
Pulisi Junior : jawaban jujur apa jawaban bohong ?
Pulisi senior mikir- mikir bentar hmmm….hmmm..
Pulisi Senior : yang bohong dulu deh
Pulisi Junior : melindungi masyarakat, mengayomi masyarakat, melayani masyarakat, menjadi sabahat anak-anak dan menegakkan kebenaran dan keadilan bagi seluruh rakyak indonesia. (lambemu..)
Pulisi Senior : kalau yang jujur?
Pulisi Junior : pengen nyari duit dengan cepat dan gampang, masa depan terjamin, gengsi di masyarakat, di hormati di masyarakat, mudah dalam urusan pemerintahan, dapet beras tunjangan, makan gaji buta, bisa seenak wudel ku dewe, menyalurkan naluri saya sebagai preman, saya ingin menjadi preman yang digaji (pada banyak literatur, polisi, angkatan militer biasa disebut dengan preman negara)
Pulisi Senior : (angguk-angguk) kamu lulus ujian, selamat ya 
DIarsipkan di bawah: birokrasi, budaya, fuckin politik, polisi korup, sosial | yang berkaitan: korupsi polisi, polisi korup, tes masuk kepolisian | Tidak ada komentar »
Ditulis pada Juli 3, 2008 oleh koransore
Rasanya gimana ya hidup di Indonesia, sana-sini banyak birokrasi yang bertele-tele dan sepertinya dibuat-buat, tujuannya saya sendiri kurang begitu tahu sepenuhnya (sesungguhnya saya jangan sampai tahu, karena akan membuat saya semakin jemu dan kesal dengan pemerintah sekarang). OK, mari kita bercerita. Ini bukan hanya cerita, tapi kenyataan. Kemarin saya berbaik hati, menyediakan waktu dan tenaga, saya korbankan waktu istirahat saya hanya untuk datang ke kantor pulisi atau Samsat untuk memperpanjang STNK motor saya, kalau orang birocraaatt bilang bayar pajak. Saya sabar menunggu setiap loket memanggil, kalau tidak salah harus ada 5 loket yang harus dilewati, itu artinya harus melalui 5 step. Sampai loket 5, waktunya mengambil STNK yang sudah disah kan oleh pejabat yang berwenang.
Baca lebih lanjut »
DIarsipkan di bawah: birokrasi, budaya, fuckin politik, sosial | yang berkaitan: samsat, korupsi polisi, polisi korup, trik korupsi, pejabat, politik busuk | 3 Komentar »
Ditulis pada Juli 3, 2008 oleh koransore
Bikin Di Colombo, kata orang harus pake calo.. klo ga , tidak akan bisa. Itu pernyataan beberapa orang yang aku kenal. Bukan tidak percaya pada orang-orang tapi denger-denger negeri ini sedang gencar – gencarnya memberantas korupsi, kolusi, dan nepotisme. Dengan PD akhirnya aku putuskan untuk mengurus SIM sendiri, pertama fotocopy lancar, beli formulir lancar, isi formulir dibantu, test kesehatan lancar tidak ada gangguan. Tapi sebenarnya ada sedikit gangguan bukan menimpaku karena kebetulan mata kesehatan ku baik-baik saja. Tapi ada seorang wanita yang kebetulan bermasalah dengan matanya, dan dia kepingin lolos SIM, dengan nada memelas pak tolong di loloskan sambil menyerahkan beberapa lembar rupiah. (siapa yang salah ? ) dan wanita tersebut lolos.
Sekarang tinggal ujian tulis, ujian tulis menggunakan komputer aku kerjakan saja ujian ini dengan tenang. Pertama hasil uji coba lulus dengan nilai 70 siip. Kemudian melalui ujian tulis yang sesungguhnya. Beberapa menit ujian tulis akhirnya sampai pada soal terakhir enter dan muncul anda tidak lolos. OK aku akan coba seminggu lagi
Akhirnya pulang, sampai di rumah aku beritakan bahwa tidak lolos, menurut asumsi beberapa keluarga atau lebih tepatnya vonis keras. “KAMU TIDAK AKAN LOLOS !!, SUDAH KAMU KE CALO SAJA ”. Akhirnya dengan berat hati aku cari calo di colombo, rasanya tidak puas belum membuktikan semuanya. Setelah tawar menawark terjadi kesepakatan harga.
Semua berkas diserahkan pada calo, yang dia katanya seorang pejabat di kepolisian. Dengan pakaian singlet dia menemui para mangsanya, beres semua bisa di atur. Dia menjelaskan padaku bahwa bagaimanapun pinternya kamu sarjana sekalipun , kamu nggak bakalan lolos karena yang bikin sistem komputernya dia ? anech !!
Akhirnya setelah di ombang – ambingkan 2 minggu ikut ujian tulis, tapi sebelumnya sudah di ajari sama calo tentang jawabanya. Sampai di ruang ujian yang inget ya di jawab yang ngga ya di jawab sembarangan. Akhirnya ujian tulis lolos.
Saatnya ujian praktik, di ujian praktik ini ada praktik tak sehat sebenarnya tanpa ujian pun sudah lolos tapi biar tidak mencolok salah satu dari kalian harus ikut ujian mewakili yang lain.
Ini nyata dan kisah nyata klo tidak percaya silah coba dech …..
Bagaimana dengan kota-kota lain di Indonesia ?
oleh cahyo.onsby@yahoo.co.id
DIarsipkan di bawah: birokrasi, budaya, first post, sosial | yang berkaitan: birokrasi, kendaraan, sim | Tidak ada komentar »
Ditulis pada Juni 23, 2008 oleh koransore
Menyikapi kasus terbongkarnya kebusukan para pejabat dan keparat tinggi negara kolusi antara jaksa yang katanya agung dengan arthalyata (bener ga menuliskan namanya, salah juga biarin), saya sangat salut dengan tindakan KPK tersebut dengan menyadap pembicaraan dua ekor tikus itu. Dengan keberanian KPK tersebut, masyarakat indonesia langsung mengetahui kebusukan mereka tanpa perlu embel-embel, kalau maling ya tertangkap basah, mau bicara apa juga rakyat sudah tahu. Sekarang yang mungkin bisa dilakukan oleh kedua tikus itu ya mengulur-ulur waktu dengan semacam fu*kin argumen sambil memikirkan siasat busuk apalagi yang bisa digunakan. Buat KPK, waspadalah dengan siasat busuk mereka.
Yang pantas menjadi catatan, saya sangat menyukai kreatifitas orang yang membuat percakapan tersebut menjadi ringtone. Dengan menjadi ringtone, percakapan tersebut seperti sebuah lagu yang bisa didengarkan dimana saja-kejelekan yang disebarkan secara riang.. ha ha..ha..rasain lu:). Saya masih menunggu kreatifitas apalagi yang bisa dilakukan untuk menelanjangi para koruptor itu.
Mungkin jaksa yang katanya agung itu bisa menyewa om roy suryo, pakar teletabis‘telematika’ indonesia yang paling terkenal agar memberikan kesaksian bahwa KPK hanya mengada-ada soal rekaman tersebut. Tapi bagaimana om roy tahu kalau rekaman itu hanya mengada-ada?, dont think about it, its his job. 
kabarnya jaksa yang katanya agung itu, keberatan jika pembicaraanya di jadikan ringtone. Tapi rakyat juga keberatan dengan korupsi yang dilakukannya, simplenya sudah salah kok masih aja membela.
Technorati Tags: ringtone, politik, korupsi, kolusi
DIarsipkan di bawah: budaya, fuckin politik, sosial | yang berkaitan: kolusi, korupsi, politik, ringtone | 4 Komentar »
Ditulis pada Mei 23, 2008 oleh koransore
hari ini tanggal 20 mei 2008 di jakarta sedang diadakan pesta menyambut 100 tahun kebangkitan nasional. Tidak bisa disebutkan berapa jumlah pengeluaran untuk mengadakan pesta yang megah seperti itu, tapi yang pasti memakan biaya yang sangat banyak. Bagaimanapun, kebangkitan nasional adalah moment yang sangat berharga bagi bangsa ini, sepatutnya diperingati. Tetapi untuk pesta semegah itu, rasa-rasanya kok kurang etis mengingat bangsa (meminjam istilah para pejabat :)) ini sedang dilanda banyak kesedihan dan masalah. Pertama soal ancaman yang hampir menjadi pasti bahwa BBM akan segera naik harganya, kedua persoalan kemiskinan, pengangguran, kesenjangan sosial, kriminalitas dan yang paling parah korupsi yang sudah menjadi rahasia umum (sudah berapa tuh persoalannya?). Selama ini indonesia belum bisa mengatasi masalah-masalah diatas, mencoba sudah, tetapi istiqomah belum saya rasa. Pantaskah pesta semegah ini diadakan?
Saya rasa tidak, malam ini saya melihat acara tersebut di tipi, penontonnya berupa pejabat-penjabat, mentri-mentri gendut,dan kebanyakan orang-orang dari kalangan menengah ke atas. Sedang orang-orang dari kolong jembatan, penghuni kontrakan berukuran 3X4 meter, pedagang kaki lima, anak jalanan dan kaum fakir tidak masuk dalam hitungan penonton. Ikut masukpun mereka tidak akan diperbolehkan. Kemudian untuk siapakah pesta ini? Selama ini yang saya tahu negara adalah rakyat, negara adalah milik rakyat dan wajib memberikan kenyamanan dan rasa aman kepada rakyat, negara adalah pelayan rakyat. Seharusnya negara ini bertanggung jawab penuh kepada orang orang fakir yang saya sebutkan diatas, dimana janji UUD yang akan menampung anak-anak jalanan (dulu ketika saya di SD,disuruh menghafal pasal tersebut lho), tidak ada, bull shit aja tuh. Masih-masing pejabat mengurusi kantongnya, dan mempersiapkan dana pensiun mumpung lagi diatas.
Cuman satu harapan saya, semoga apa yang telah disebutkan di UUD bisa ditegakkan dengan benar-benar tegak, karena saya percaya bahwa orang-orang jaman dulu merancang UUD dengan sangat cermat dan sesuai hati nurani. Hanya saja, sekarang ini banyak sekali orang yang mengerogoti UUD demi kepentingan politik dan kelompok saja.
DIarsipkan di bawah: Uncategorized | Tidak ada komentar »
Ditulis pada Mei 8, 2008 oleh koransore
Tiba-tiba seorang kawan, dia wanita mendekati saya yang waktu itu sedang duduk pada sebuah ruangan, sepertinya sebuah warung atau sebut saja kafe sederhana. Saya pernah bertemu dia beberapa hari yang lalu, sempat berbicara sedikit tentang hal-hal yang kurang (sebetulnya) saya minati. Akhirnya hari ini dia berkata lagi bahwa dirinya sedang suntuk karena pacarnya. Pacarnya itu sekarang lagi ngambek, tidak mau diajak bicara, tidak mau ditemani, tidak mau diapa-apain, pokoknya “tinggalkan aku sendiri” kata sang pacar. Saya memberanikan diri untuk bertanya, siapa nama pacarmu ? mungkin ini kurang begitu penting. Sejak kapan sih nama menjadi begitu berarti dan pantas menjadi bahan pembicaraan. Apa boleh buat, saya juga kurang begitu tertarik berbicara dengan dia. Dia mengeluarkan sebuah MP4 player, dalam MP4 itu tersimpan foto-fotonya. Lho, saya heran bercampur aduk dengan nasi udukkaget kenapa pacarmu wanita?
Baca lebih lanjut »
DIarsipkan di bawah: budaya, gender, lesbian, poligami, sosial | yang berkaitan: gender, lesbian, polemik | 3 Komentar »